Minggu, 19 Agustus 2012

Antara aku dan mereka

Ingin ku seperti mereka . .
Ku sadar kemampuan ini tak sebanding . .
Dan ku sadar tak selamanya ku ingin seperti mereka, mereka pun ingin sepertiku . .
Ego ini main keroyok . .
Tak ku dapat cela untuk memulihkan kondisi harmonis . .
Ku tak butuh bahagia . .
Ku tak butuh kenyamanan . .
Ku tak butuh ketenangan . .
Karna aku adalah ketidaksempurnaan . .
Dan jika semua hanya bersifat sementara . .
Berkenankan saja agar mereka bahagia, nyaman, dan tenang . .
Cukup aku menatapnya . .

Sabtu, 18 Agustus 2012

Judul e Ilang




            Berbagai halang rintang telah kami lalui untuk sekedar merencanakan perjalanan kami (Adis, Gaiety, dan Grace). Dari berbagai ujian di kampus, aktifitas kampus, dan berbagai seluk beluk perkampusan kecuali ayam kampus telah kami atasi dan terwujudlah impian kami. 4 Agustus 2012 kami menuju kota Jepara menggunakan mobil yang berada dalam kekuasan sepupu saya (Say thanks so much to Wildan) hhe . . Di perjalanan melaui kota mu Demak lalu mengutara dan tibalah di Jepara, sering berjumpa dengan masjid-masjid yang sangat berseni yang bisa dilihat dari bentuk arsitektur dan lighting-nya. Tidak hanya masjid, sering pula ditemukan kayu-kayu berseni yang penuh ukiran tanpa rupa manusia dan binatang . . Beberapa puluh menit kemudian, setelah sholat subuh, sesuai dengan intenarary yang diajukan oleh agent, kami tiba di Jepara tepat pukul 06.00 WHS (Waktu Handphone Saya). Namun sungguh kecewa, si tersangka yang menyatakan diri menggunakan baju biru (guide) seharusnya lebih awal tiba di lokasi nyatanya belum tiba. Kami pun menyempatkan diri untuk foto-foto (mengalay ria) di sekitar dermaga. Puas berfoto, kami memilih tempat duduk di sekitar warung tempat berkumpul peserta. Nampak beberapa peserta Cines yang sepertinya sangat siap melaut. Ada pula agent lain yang nampaknya juga memilih warung ini sebagai tempat berkumpul mereka. Iiih waaw . . Melihat peserta agent sebelah ada paklek (bahasa alay kami untuk menyebut bule cakep) –nya jadi berasa ingin pindah agent. (Yakin, si penulis ndeso banget) Hhe . .
            Kriik . . Krrriikk . . Krriik . . Setengah jam telah berlalu, kami berubah menjadi stupa . . Namun tiba-tiba dari kejauhan nampak rerumputan berjalan . . Tapi rerumputan itu semakin mendekat, saya semakin sadar bahwa itu sosok manusia berbaju biru.(peace) Dan jelas sudah, rerumputan itu adalah rambut kriwilnya. Owh sepertinya saya benar-benar jenuh hingga berfantasy terlalu jauh. Hha . . Segera Adis dan saya menghampiri sang tersangka, . . Saya yang sudah menjadi setengah stupa berusaha menampakan wajah charming, sayang sekali sang tersangka hanya membalasnya dengan, “Oh mbayarnya nanti aja, ini intenarary dan snack-nya.” (toeng . .). Kemudian kami masih harus menunggu 2 jam lagi untuk keberangkatan. Untuk mengisi waktu luang saya buka amplop yang berisi intenarary ternyata di dalam juga ada stiker dan keterangan mengenai tempat wisata kami, yuph, KARIMUNJAWA (ngetiknya sambil teriak dan bangga) . . haha . . Cukup setengah jam saya telah selesai membaca semua. Bersyukur ada Papanya Adis yang ikut mengantar kami. Beliau menerangkan beberapa kementakan yang akan terjadi ketika kami di Karimunjawa, lumayan untuk mengisi waktu luang. Beberapa diantaranya: mengenai tanaman langka di Karimunjawa yang mampu menyembuhkan mata minus, berdasarkan pengetahuan Om Sigit selaku Papanya Adis, tanaman ini hanya ada di Karimunjawa, lalu mengenai listrik, mengingat Karimunjawa identik dengan pulau kecil maka listrik akan padam setelah jam sembilan malam, serta mengenai proses berlabuh kami di Karimunjawa berada di Dermaga seperti di Jepara.
            Masa yang kami tunggu pun tiba. Waktu menunjuk pukul 08.29 WHS saatnya berangkat . . 6 jam di kapal memberi kesempatan saya untuk beberapa kali pasang status FB. Hha . . Di saat perut mual, kepala pusing, dan siaga di pinggiran kapal agar ketika luapan muntah keluar bisa terjun langsung ke laut. Haha . . diiringi kencangnya terpaan angin, muncul komplotan lumba-lumba menyapa dan menghibur diri yang sedang mabuk. Lucu lumba-lumbanya lompat-lompat, ada yang ngejar-ngejar kapal juga. . hhe . .
Setelah 6 jam berlalu nampaklah kremen-kremen yang kemudian menjadi Kremenjawa, eh Karimunjawa. Tiba di Karimunjawa, kami disambut supir bis yang telah siap mengantar ke homestay. Menurut saya antara homestay di Yogya dengan Krimunjawa lebih berseni di Yogya. Tiba di homestay kegiatan kami selanjutnya adalah bersih-bersih diri dan istirahat selagi menanti adzan magrib(buka puasa). Allahu Akbar . . Allahu Akbar . . kami segera menuju homestay seberang untuk berbuka. Di homestay ini si Adis menemukan fenomena unique. Sebagai psikolog dia menganalisa seorang anak yang jutek akibat menonton televisi tanpa dampingan orang tua. (bangga punya sepupu psikolog) Haha . . Fenomena anak jutek yang lebih terkonsentrasi pada televisi yang notabenenya menayangkan sinetron dan kisah-kisah fiktif ini juga telah kami temukan di homestay tempat kami menginap. Mereka sangat apatis dengan sapaan kami dan berbagai gurauan kami. Mereka hanya focus pada televise. (kacang . . kacang . .) hha . .
            Mengisi heningnya malam, kami berjalan-jalan ke alun-alun Karimunjawa. Di sepanjang jalan mayoritas permukiman yang ada dijadikan homestay, toko, dan tempat penyewaan diving and snokling tools. Berdasar observasi kami, permukiman di Karimunjawa rata-rata sama besar dan sama bagus serta bisa disimpulkan tidak ada kesenjangan di sini. Di samping itu mengenai relasi masyarakat sendiri dapat dikatakan berupa paguyupan yang mana masih bersifat kebatinan, akrab, permanen, dan non-formal. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan masyarakat yang sering nongkrong bareng di depan rumah. Tidak hanya satu-dua rumah tapi beberapa rumah. Hal ini juga dapat mempertegas bahwa di Karimunjawa sangat minim gap antar si kaya dan si miskin. Kemudian dapat kita prediksikan mengenai keamanan di Karimunjawa yang pastilah aman. Seperti fenomena yang ditemukan oleh Adis, yakni sebuah motor di Karimunjawa diparkirkan tidak hanya tidak dikunci stang tapi kuncinya saja tidak dicopot dari motor. (Awesome) Dan yang lebih mengasikkan di Karimunjawa tidak ada lampu merah. Jadi teringat gagasan Mufty akan kebebasan di mana tidak ada hukum yang mengatur semua tingkah kita, segalanya cukup dengan toleransi dan saling pengertian. Sempet shock saat gagasan Mufty melintas di kepala lalu gagasan itu terrealisasikan. Sebab penulis menilai gagasan itu sangat utopis, di mana hukum tercipta hanya dan hanya jika rakyat di tempat tersebut membutuhkan hukum, jadi ketika masyarakat itu benar-benar sudah aman, sejahtera, gemah limpah loh jinawi ya persentase terhapusnya hukum itu semakin besar. Tapi penulis mengira antara individu dengan individu lainnya pastilah memiliki kebutuhan dan tujuan yang berbeda-beda, yang jadi masalah adalah memanagement antar kepentingan-kepentingan tersebut. Apakah bisa tanpa hukum semua menjadi teratur? Hemm... Sepertinya penulis perlu penilaian baru, tidak hanya dalam memahami fakta tapi juga dalam menentukan tujuan.
            Setelah puas berjalan-jalan, kami kembali ke homestay dan melanjutkan kegiatan tadarus. Mengenai keagamaan di Karimunjawa masih sangat kental. Mungkin konklusi ini dapat kita pilih ketika kita bandingkan dengan lokasi wisata yang sekriteria dengan Karimunjawa, seperti Bali. Di Karimunjawa partisipasi masyarakat mengenai peribadatan sangat militan. Mengingat juga lokasi Karimunjawa yang masih dekat dengan Jepara dan Demak yang kental akan Islam priyayinya. Dan mengingat juga sejarah dari Pulau Karimunjawa snediri.
            Paginya karena ada beberapa miskomunikasi dengan guide kami. Maka kami tidak mendapat sahur. (hufft . .) Kami pun memutuskan kembali tidur. Kemudian saya disadarkan kembali oleh Adis dan Mbak Grace, segera saya mempersiapkan diri untuk kegiatan selanjutnya, yakni snorkling. Di pagi ini kami tersadar akan ketidakberadaan listrik di Karimunjawa. Kata Ibu homestay listrik mengalir pukul 18.00-06.00. Yah, pernyataan dari Om Sigit tereksekusi nih . . hhe . . Jam 08.00 kami dijemput guide kriwil kami. Menuju ke dermaga dan tekketekketekkketekk . . Kapal kami melaju menuju Pulau Menjangan Kecil. Awalnya masih ribet sendiri dengan perlengkapan kami. Kemudian mulai enjoy dan snorkeling jauh-jauh, hingga salah satu guide menghampiri dan berkata, “Jangan jauh-jauh Mbak . .” (Maaf saya hiperfantasy hingga tidak sadar terlalu jauh bersnorkling) Diseret deh sama Bang guide. Haha . . Selanjutnya menuju pojok Pulau Karimunjawa. Di sini yang spesial pohon kelapa miringnya. . Mulai lah kami sunbath tanpa sadar. .hheerrrrr . . Setelah berfoto-foto dan kulit mendadak kusam kami cuss lagi ke Spot Gosong. Di spot gosong kegiatan kami ber-snorkling lagi. Tapi saying si Adis dan Mbak Grace tidak turut bercengkrama dengan ikan-ikan. Si Adis beralasan ombaknya terlalu besar, sedang Mbak grace sendiri mabuk. Jadilah saya ber-snorkling sendiri. Tujuan berikutnya Pulau Cemara Besar, sepertinya tidak begitu menggosongkan karena kami tiba di Pulau Cemara Besar ketika matahari hampir terbenam, justru gosong ketika di perjalanan dari pojok Pulau Karimunjawa ke Pulau Cemara Besar dengan goyangan-goyangan ombak . . yang menimbulkan efek mual pada Mbak Grace dan saya. Haha . . Di Pulau Cemara Besar Mbak Grace tersungkur di kapal tak ada sedikit pun minat untuk menikmati Pulau Cemara Besar. Saya sendiri juga mual tapi lebih memilih turun ke Pulau Cemara Besar dengan Adis dibanding pasrah bersama kapal yang terhuyung-huyung oleh ombak. Di Pulau Cemara Besar, angin semakin mengancam saya untuk menggila. (Diiiiiiinggiiiiinn banget euy) so saya pilih pecicilan kesana-kesini mengeksplorasi Pulau Cemara Besar yang menurut pengukuran saya hanya bekisar 24x30m, mungkin kalau kita cari di google map tidak terdeteksi. Hhe . . Ketika saya sibuk pecicilan, saya tersadarkan si Adis tengah sibuk mbribik dengan salah satu guide. Buahaha . . Tapi dari mbribikan si Adis, kami jadi dapat info yang cukup krusial, seperti keberadaan institusi pendidikan serta suku yang ada di Karimunjawa, ya kendatipun itu juga bisa dicari di google tapi itu sebagai pengklarifikasian di lapangan. Hhe . . Beberapa waktu kemudian tubuh saya lumayan menghangat, saya pun telah menemukan excellent object untuk diajak foto bersama, yakni bintang laut yang besar dan indah. Tadinya sempet nemu ikan pari tapi ikan parinya pemalu jadi menjauhkan diri dari ku. Haha. . Saat guide kriwil datang, kami pun meminta untuk difoto dengan istana pasir serta bintang laut.
            Setelah dari Pulau Gosong, kami kembali ke homestay. Tiba di Pulau Karimunjawa tepat adzan magrib, kami pun memilih warung siomay untuk berbuka. Di warung siomay ketemu guide kriwil, sempat terjadi pertikaian kecil antara Adis dan guide kriwil. Hha . . Si Mbak Grace yang sejak pagi tidak sahur dan di kapal muntah-muntah jadi tidak bisa menerima makanan. (hikz) Sampai di homestay, bersih-bersih, ibadah, dan istirahat.
            Hari ke-3, kami telah sahur di alun-alun, ini kesekian kalinya kami tidak mendapat fasilitas konsumsi dari agent. (selalu berusaha mengikhlaskan) Kapal kami mengawali perjalanan menuju penangkaran hiu. Di sini kami bertemu dengan agent Paklek yang di jepara. Hhe . . Di penagkaran hiu, Mbak Grace dan Adis tidak ikut bercengkrama dengan hiu-hiu. Setelah semua merasa telah dapat menjinakan hiu. Kami bergegas pindah lokasi ke berikutnya. Di Pulau Sepanjang, jujur saya sudah capai dan jenuh. Pecicilan saya pun kambuh. Ketika kami benar-benar telah hitam, kami segera pindah lokasi untuk bersnorkling. Di sini kami foto under water. Dan salah satu dari snorkel ada yang hilang. Lalu kami diwajibkan patungan untuk mengganti snorkel tersebut. (sebel) Selama bersnorkel saya mencoba menikamati dan menyelam hingga dasar laut. Sub’hanallah, warna-warni ikan dan aneka terumbu karang begitu indah. Satu kalimat untuk Bangsa Indonesia, “Maka nikmat Tuhan mu yg manakah yang kau dustakan?” Lalu ke sebuah pulau yang saya kira hanya berukuran 25x7m. Setelah foto bersama kami pun kembali ke homestay, mempersiapkan perjalanan pulang. Dan kisah berikutnya hanya monoton dan mengesalkan karena guide kriwil jadi saya lewatkan saja.
            Sudah bisa mengambil hikmah hilangnya bukan? Coba sebutkan apa saja? Haha . . Hanya yang menghayati yang bisa jawab.

Rabu, 11 Juli 2012

Speak Up


Seseorang akan melakukan sebuah dialog ketika ia merendahkan diri dalam artian tidak merasa lebih tinggi atau rendah dari yang lain, adanya sebuah cinta, keyakinan, dan harapan pada pihak kedua . . 

Ciptakan sebuah dialog karena ketika suatu interaksi tanpa dialog ialah sebuah kebisuan yang mana mengkonstruksikan individu sebagai benda mati. Menghambat kreativitas individu tersebut. Indikasi seseorang menciptakan benda mati ialah ketika ia berusaha menaklukan, memecah belah, memanipulasi, serta menyerang kebudayaan oposisinya. 
 
Yang perlu ditekankan ialah semua perlu dialog sebagai proses timbal-balik, begitu pula seorang penguasa ia perlu berdialog dengan rakyatnya untuk meraih sinergisitas, dari dialog tersebut pun akan  menciptakan suatu kepahaman bersama mengenai keseluruhan baik dari sisi rakyat maupun penguasa. 
 
Let’s share together . . 

Selasa, 03 Juli 2012

Usia 14 tahun, menurut ku usia yang sudah cukup mapan bagi seseorang dalam menilai baik dan buruk. Di usia ini pun aku putuskan untuk mencari jati diri ku tanpa terpengaruh oleh kondisi sekitar. Kendati jati diri terbentuk dan telah melekat pada individu sejak individu tersebut lahir (tidak perlu dicari), dalam artian saya berusaha menentukan segala sesuatu menurut keyakinan saya dan sering kali mengabaikan larangan dari orang lain seperti Orang Tua. Tak jarang saya menjerumuskan diri pada hal yang sebelumnya tidak pernah saya sentuh bahkan saya lirik dikarenakan warning-warning dari Orang Tua.

Baiklah setelah mengarungi beberapa proses kehidupan . . Termasuk pengalienasian diri dari hiruk pikuk kehidupan yang menuntutku untuk terus kerja yang berorientasi uang dan berujung pada kefanaan . . Hingga belajar pada orang yang ahli dalam berbagai bidang . . Di samping sikap liberal ku dengan berbagai fantasiku. Di sini saya mencoba objektif, dalam menjalani semua proses kehidupan, saya memosisikan diri pada keobjektifan, yang mana tidak memihak pada salah satu pihak. Saya belajar ke semua madzab.

Sekarang telah sampai pada kepahaman dan kepastian bahwa Tuhan itu ada . . Ya saya yakin Tuhan itu ada . . Tapi Tuhan apa? Tuhan yang bagaimana? Apakah Tuhan yang diciptakan? Atau Tuhan yang menciptakan dan diciptakan? Atau Tuhan yang menciptakan dan tidak memiliki batasan? Keraguanku pada Tuhan yang diciptakan, ketika aku gelisah dan memohon pada Tuhan buatanku. Apa yang terjadi? Dia membisu dan dia pun mudah untuk ku hancurkan. Lalu aku buat lagi Tuhan, yang kemudian terpikirkan, bagaimana bisa Tuhan yang aku ciptakan bisa menciptakan aku? Sedang dia sendiri aku buat dan hanya membisu ketika aku menangis dihadapannya. Lalu Tuhan yang menciptakan dan tak memiliki batas. Ya, konsep ini begitu abstrak. Tapi aku yakin Tuhan ku memiliki definisi yang jelas mengenai Dirinya, yang patut aku sembah dan yang telah menciptakan aku. Tuhan yang tak memiliki batas, penguasa seluruh alam. Dia tak dapat digambar, hanya memiliki berbagai sifat yang bila ku mengingatnya akan menenangkan hati, menguatkan hati, mencintai, menyadarkan diri, meyakini-Nya, dan mengharapkan-Nya. Dialah Allah.

Tuhan ku hanya Allah SWT. Keyakinanku pada Allah memiliki konsekuensi untuk meyakini firman-Nya (Al-Quran), Rasul utusan-Nya, malaikat, Qada dan Qadar, serta hari akhir. Ini yang telah ditanamkan beberapa tokoh yang mengisi kehidupanku. Sekarang pun saya dengan tegas meyakininya.

Munculah kata "Agama", apakah agama itu? Banyak orang mengatakan bahwa agama adalah hasil kebudayaan, kebudayaan yang dapat berubah terus-menerus seiring perkembangan zaman. Yang kemudian dikatakan keberadaan agama itu hanyalah peradaban usang, kini seiring perkembangan teknologi dan informasi agama tidak diperlukan lagi. Agama harus dimusnahkan. Apakah definisi agama itu dapat dikontekskan pada Agama Islam? Islam hanyalah hasil kebudayaan, kebudayaan dari manusia-manusia, termasuk Al-Quran. Al-Quran dianggap hanyalah ciptaan manusia (Muhammad SAW), termasuk malaikat, Qada dan Qadar, serta hari kiamat. Semua hanya retorika manusia.

Setelah saya renungkan, bagaimana dengan, 
وَإِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِ وَادْعُواْ شُهَدَاءكُم مِّن دُونِ اللّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
 Dan jika kalian (tetap) dalam keraguan atas apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad)—yaitu al-Qur'an—maka buatlah satu surat (saja) yang semisal dengannya dan ajaklah ahli-ahli kalian selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar. (QS: Al-Baqarah (2) : 23)

Ini merupakan segel dari Al-Quran yang akan kekal hingga akhir zaman. Al-Quran ini suci, murni firman Allah SWT. Dan teruslah mengkaji Al-Quran yang jutaan manusia telah mengakui, bahwa bahasa Al-Quran adalah bahasa paling indah. Kendati pun kita beragama Islam jangan hanya karena keindahan Bahasa Arab.

Yang akan saya bahas selanjutnya adalah keyakinan pada Qada dan Qadar. Secara singkat Qada adalah rencana Allah SWT. sejak zaman azali, sedang Qadar adalah pelaksanaannya. Yang sering terjadi kesalahan ialah ketika seseorang mengatakan Qada dan Qadar adalah takdir yang memang telah dituliskan Allah SWT. pada hambanya, yang mana berimplikasi pada sikap individu yang pasif dan tidak mau memperjuangkan hidupnya. Berikut ini akan dipaparkan mengenai hubungan antara qadha dan qadar dengan ikhtiar ini, para ulama berpendapat, bahwa takdir itu ada dua macam :
1.Takdir mua’llaq: yaitu takdir yang erat kaitannya dengan ikhtiar manusia. Contoh seorang siswa bercita-cita ingin menjadi insinyur pertanian. Untuk mencapai cita-citanya itu ia belajar dengan tekun. Akhirnya apa yang ia cita-citakan menjadi kenyataan. Ia menjadi insinyur pertanian. Dalam hal ini Allah berfirman: lihat Al-Qur’an on line di google
Artinya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. ( Q.S Ar-Ra’d ayat 11)
2.Takdir mubram; yaitu takdir yang terjadi pada diri manusia dan tidak dapat diusahakan atau tidak dapat di tawar-tawar lagi oleh manusia. Contoh. Ada orang yang dilahirkan dengan mata sipit , atau dilahirkan dengan kulit hitam sedangkan ibu dan bapaknya kulit putih dan sebagainya. 

 Dari ulasan di atas jelaslah bahwa walaupun Allah telah menentukan segala sesuatu, namun manusia tetap berkewajiban untuk berikhtiar. Kita tidak mengetahui apa-apa yang akan terjadi pada diri kita, oleh sebab itu kita harus berikhtiar. Jika ingin pandai, hendaklah belajar dengan tekun. Jika ingin kaya, bekerjalah dengan rajin setelah itu berdo’a. Dengan berdo’a kita kembalikan segala urusan kepada Allah kita kepada Allah SWT. Dengan demikian apapun yang terjadi kita dapat menerimanya dengan ridha dan ikhlas.

Jadi ketika kita lahir pada keluarga yang bermasalah ya disyukuri aja. Mungkin itu adalah yang terbaik untuk kita dan dengan mensyukuri kita akan lebih tenang dan awet muda. Dan hidup adalah pilihan yang setiap pilihan memiliki konsekuensi.

Senin, 25 Juni 2012

Kehidupan . . Hidup . . Penghidupan . . Terhidupkan . . Menghidupkan . .
Kematian . . Mati . . Pematian . . Termatikan . . Mematikan . .
Hidup dan mati . . Dua keadaan yang pasti kita alami . . Kapan? Pertanyaan ini yang selalu muncul di pikiran saya. Sebelumnya, ada tanda tanya lain di kepala. Dari mana saya? Siapa saya? Untuk apa ada saya? Lalu esok mau ke mana? Setelah mati ada apa? Ouh stop . . But . . Tolong bantu menjawab. .
  1. Kapan? (misteri/dapat kita tentukan? Seperti kita bunuh diri? Tapi apakah detik dan hari sebelumnya kita tahu bahwa detik itu kita akan bunuh diri?)
  2. Dari mana kita? (Dari hasil perbuatan manusia, apakah hanya itu? Bagaimana dengan keguguran? Mengapa bisa terjadi, sedang sang Ibu tak melakukan segala sesuatu yang membahayakan si janin? Ya, menurut hasil penelitian dan penemuan, kita berawal dari air mani, air yang menjijikan yang seharusnya dibuang dan tanpa sel telur dari ibu dia tak ada gunanya, namun ketika bertemu dengan sel telur, bagaimana bisa dia melakukan step-step pembentukan janin? Apakah ada sistem komputer di antara sel telur dan sperma, sehingga proyek pembuatan janin tersebut dapat berjalan dengan lancar tanpa koordinasi dari kita? Mengapa kita tidak merasakan sesuatu atau ikut berpikir ketika sperma dan sel telur tersebut sedang mendesign janin? Mengapa mereka dapat berjalan sendiri?)
  3. Siapa kita? (Manusia, ya manusia sendiri apa? Kombinasi antara jasad dan roh . . Lalu apa perbedaan saya dengan tumbuhan atau binatang lain? akal. Untuk apa akal? Untuk membumi hanguskan alam kah? Mungkin kah kita bisa? Mengapa membumi hanguskan alam, sedang kita sendiri butuh alam? Apakah kita bosan dengan alam?)
  4. Untuk apa saya ada di bumi? (Banyak manusia-manusia lain yang jauh lebih pandai/bodoh untuk memimpin negara ini, banyak manusia-manusia pandai/bodoh untuk merusak alam semsta ini . . Lalu apa guna saya, seorang individu kecil dan sangat-sangat kecil, lemah, renta, tak berdaya? Masih ada kah yang dapat saya kerjakan?)
  5. Esok mau ke mana? (Hari ini saya hanya pergi ke kampus, esok saya juga ke kampus, terus sepanjang hari, tapi apa iya besok saya masih hidup? Bila esok saya mati, apa guna ke kampus, yang pada umumnya untuk mencari pekerjaan, sedang saya esok akan mati sebelum mendapat pekerjaan? Apa guna ke kampus, yang pada umumnya untuk mendapatkan nilai, sedang esok saya masih UAS dan penilaian masih beberapa hari lagi?)
  6. Setelah mati ada apa? ( Apakah tidak ada hal lain selain tidur panjang? Apakah hal ini adil? Ibaratnya sebuah seminar, di mana peserta ada yang pro dan ada yang kontra, namun tiba-tiba fasilitator mencukupkan seminar tersebut di saat pihak kontra belum berargumen, apakah adil? Dimensi apa yang akan saya jalani berikutnya setelah mati? Reinkarnasi kah? Yang terus dan terus tak berujung atau memiliki ujung dengan menjadi Tuhan? Apakah bisa? Bagaimana bukti-bukti yag telah terkuak saat ini?)
*Kontemplasi to be continued

Selasa, 12 Juni 2012


Terlalu dangkal ketika kau marah dengan seseorang tanpa tahu kondisi detail orang tersebut. Suatu kisah tentang Petani yang memiliki bayi dan peliharaan tupai. Seperti rutinitas biasanya, petani berpamitan pergi ke ladang dan menitipkan bayinya pada sang tupai. Tupai yang amanah pun menjaga bayi petani dengan penuh kasih sayang. Lalu datanglah seekor macan yang hendak menerkam si bayi. Menyadari hal itu si tupai segera melindungi bayi petani. Dengan berbagai perlawanan si tupai tergigit taring macan, tercakar kuku macan, hingga darah pun berderai-derai di tubuh tupai, tupai pun tak berdaya lagi untuk menjaga si bayi. Kemudian si macan dengan ganasnya menerkam si bayi. Bayi pun mati.
Hari menjelang malam, petani pulang dari ladang. Betapa terkejutnya melihat tubuh bayi yang mati penuh darah di samping tupai yang sedang membersihkan tubuhnya dari noktah-noktah darah. Amarah petani pun meluap-luap dan ingin membalas si tupai yang dianggap telah membunuh si bayi, dengan membawa golok, petani berusaha membunuh si tupai. Si tupai dengan tubuhnya yang limbung berusaha menghindar dan menjelaaskan bahwa yang membunuh bukan dirinya. Namun si Petani tak percaya sebab telah ada bukti darah di tubuh tupai. Di akhir cerita si tupai pun mati dibunuh petani.
Setelah membunuh tupai, si petani hendak mengubur bayinya dan membuang bangkai tupai. Beberapa langkah dari rumah ia bertemu dengan macan yang membawa potongan tangan si bayi dan di tubuhnya juga terdapat noktah-noktah darah. Barulah si Petani sadar bahwa tupai tak bersalah.
Bagaimana?
Grave diatas cukup signifikan bukan, untuk menggambarkan betapa pentingnya kesabaran. Karena jika sedikit saja salah menilai kita bisa membunuh seseorang yang tak berdosa. Atau mulut mu harimau mu.

Jumat, 08 Juni 2012

Malam ini terdengar isakan tangis . . Isakan tangis dari seorang yang merasa teraniaya selama hidupnya. Ini kali pertama ia menangis di hadapan ku. Mungkin malam ini adalah malam puncak hasrat hidupnya. Dan esok pagi ia tak punya keinginan untuk merasakan segala sesuatu terkhusus cinta.
Peristiwa kontras terjadi beberapa hari lalu, teman saya berdoa agar segera menikah. Lalu teman yang lain pun mengamininya dan ikut berdoa agar segera menikah juga. Tapi ada beberapa teman yang menyangga, "Iih, kug nikah muda. . Cari kerja dulu lah . ." Yang lain pun menambahkan, "Lebih baik nikah, dari pada pacaran." Lalu hening dan tiba-tiba syaraf otak saya mengencang dan berputar-putar menyongsong lamunan panjang. Karena pusing, saya putuskan untuk berpamitan dengan teman-teman dan berjabat tangan. Namun satu dari teman saya bertanya, "Gapety kapan nikah?" Saya pun menjawab, "Saya tidak menikah. Hahaha . . Dosa ya?" Beberapa teman yang mungkin kaget hanya terdiam. Sedang teman yang sudah peka reflek mengamini. (Aamiin)
Cinta . .
Mungkin itu entry point-nya . .
Sulit mendefinisikan cinta . . Dan saya salut dengan para filsuf yang mampu mendefinisikan cinta dengan berbagai ekspresi, baik film, musik, drama, lukisan, puisi, hingga kalimat gombal.
Apakah cinta itu indah? Apakah cinta itu buruk? Kenapa harus ada cinta?
Kita tahu cinta bisa menstimulan orang untuk bahagia. Cinta juga bisa merangsang orang untuk berduka. Apa cinta itu? Mungkinkah cinta itu untuk berinteraksi dengan orang? Adanya sebuah kepentingan ekonomi, dan politik dapat menjadi motive seseorang untuk berinteraksi. Jadi apa guna cinta itu?
Setelah saya ketahui mereka yang ingin menikah karena cinta. Dibalik itu, mereka ingin lindungan dari seseorang. Mereka ingin jasanya dibalas. Mereka ingin menghindari stigma masyarakat akan perawan tua. Apa itu cinta?