Senin, 06 Februari 2012

Wibawa tak sekedar pesona





Tau kah siapa beliau? Mas Penewu Suraksohargo1 atau sering kita sebut Mbah Marijan. Almarhum adalah abdi dalem keraton kesultanan Yogyakarta yang dinobatkan oleh Sultan Hamengku Buwono IX pada tahun 1970. Awalnya Almarhum berada diposisi mentri juru kunci atau sebagai wakil Ayahnya yg menjabat sebagai juru kunci Gunung Merapi setelah Ayahnya meninggal Mbah Marijan menggantikan menjadi juru kunci Gunung Merapi.

Kesetiaannya pada Sultan menambah wibawa Mbah Marijan di mata banyak kalangan. Seperti yang saya alami ketika bermain ke Keraton, beberapa guide mengaku salut kepada Mbah Marijan, di mata mereka Almarhum begitu istimewa, menepati ikrarnya sebagai abdi dalem. Mengingat ketika Gunung Merapi diprediksikan akan segera meletus, Almarhum bersih kukuh untuk menetap di rumahnya dan tidak mengungsi. Walau banyak pihak juga yang menganggap beliau syirik atau sia-sia, namun saya mencoba mengambil sisi positif dari pilihan yang Mbah Marijan putuskan.

Kisah meletusnya Gunung Merapi dapat menggambarkan sosok Mbah Marijan yang tidak egois, Almarhum mengutamakan masyarakat dengan memberi instruksi untuk mengungsi dan cukup Almarhum yang memantau dan berdiam diri di Gunung Merapi. Pengorbanan Mbah Marijan meringankan beban rakyat di Gunung Merapi. Sikap Mbah Marijan yang tidak sombong juga membuat rakyat semakin simpati bahkan empati kepada Almarhum. Beberapa karakter Mbah Marijan di atas lah yang membangun opini masyarakat bahwa beliau berwibawa. Sedangkan bila kita lihat status Mbah Marijan hanyalah tukang kebun yang setiap hari hanya beribadah tapi alam berkata beliau patut dinaikan derajatnya. Ini berbeda dengan beberapa pejabat yang mungkin memiliki status dan pesona tinggi namun masyarakat menilainya rendah, mengingat beberapa pejabat sering melakukan kesalahan dalam aneka bentuk, melakukan ketidak adilan, dan tidak tahu etika. Mungkin sementara waktu mereka dapat  membangun tabir-tabir untuk menyembunyikan aib mereka, namun setiap bangkai pasti tercium baunya dan terbukalah aib dan kekurangan diri mereka yang selalu berstatus quo.