Senin, 26 Mei 2014

Adek Tersayang karena "Kamu lah Satu-Satunya.." #LyricDewa19

Hey Sist sudah 18 tahun kita bersama. Sesuai dengan usia mu kini yang semakin besar jumlahnya.. Ngga papa asal kedewasaan dan iman mu turut mengalami progres.. :)
Ini detik yang mendebarkan kita ya.. Pengumuman SNMPTN.. Jeng.. Jeng.. Tapi denting jam masih ingin berdansa menggelitik resah kita.. Jadi izinkanlah aku bercerita pengalaman ku saat pengumuman SNMPTN lalu ya.. hyahaha.. #alibi
Dulu nih, sama aku juga resah bin gelisah menanti pengumuman.. Jujur, persentase keyakinan aku diterima pada pilihan ku itu sangat kecil.. Aku lebih percaya kalau aku ditolak dan perlu mengorek-ngorek lembaran soal untuk mengikuti tes uji lagi..
Tengah malam seperti ini nih.. Aku masih on line FB.. Mengikuti kegelisahan seluruh umat FB lulusan SMA.. Kemudian, "Pengumuman udah ada Coy.." Lapor kawan seperjuangan ku di chating group SMA..
Sambil gemetar dan tergagap-gagap aku mengetikan nomor ujian ku dan sign in..
Alhamdulillah, "SELAMAT ANDA DITERIMA DI SOSIOLOGI UGM"
Aku mengedipkan mata beberapa kali.. Mengoreksi apakah benar yang aku buka itu akun ku? Aku coba sign out dan sign in lagi.. Namun, tetap kata SELAMAT itu yang aku baca..
Aku sempat terdiam, bingung harus ngapain..
Aku keluar kamar, dan meilihat ternyata Mama baru saja menyelesaikan sholat Qiamulail.. Aku tanya Mama, "Mama, ini Gaiety beneran diterima di UGM bukan?"
"Mana coba?" Jawab Mama sambil penasaran.
Mungkin karena Mama dan aku satu tipe insan yang skeptis, kritis, dan hati-hati.. Maka Mama menyuruh ku untuk membuka dengan software lain.. (Padahal harapannya Mama meyakinkan aku bahwa aku benar-benar diterima :p )
Dan semua software pun mengucapkan hal yang sama..
Langsung Mama menyuruhku untuk sujud syukur.. Hehe..
Masalah perjuangan dan pengorbanan, sepertinya tidak perlu diceritakan, yang pasti saya tidak pernah menjauhi kegiatan bermain, keluyuran, dan semua fantasy saya..
Jadi,.... 57 menit ke depan apa hasil mu Dek? :v
Barakallah.. :*

Rabu, 14 Mei 2014

Penguasa.. Penguasa.. Berilah Hamba UUUUUUAAAAANNNNGG.. Beri Hamba Uang.. Beri Hamba Uuuuaaaang..

Itu judulnya dari Mas Iwan Fals.. Thanks yo Mas..
Yak.. kemudian dari judul yang pakai kaca mata masyarakat.. Saya balik jadi kaca mata sang penguasa..
Kalau saya pikir, renungkan, kontemplasi, muhasabah etc. masih banyak kesalahan saya ketika memimpin atau mengkoordinasi teman-teman, beberapa kekurangnnya adalah,
1. Jangan marah kalau dikritik, karena kritkan itu membangun.. Aamiin. :v
2. Jangan Bossy
3. Jangan mengorbankan sesuatu untuk kepentingan pribadi.
4. Harus menginspirasi
5. Jaga kesehatan jasmani dan rohani
6. Jangan takut mundur dari jabatan, karena tanpa jabatan pun masih dapat berkarya
7. Berbagi amanah, dengan yang lain jangan egois
Yah maaf kalau pembahasannya tentang saya, karena lebih baik mengoreksi diri sendiri dibanding mengoreksi orang lain.. Duuubiduuuubiduuuu...
Oya, beberapa tokoh yang bisa menginspirasi nih..
Rasulullah dengan segala karakter, tutur, dan segala-galanya.. B)
Abu Bakar yang hati-hati, tidak tergesa-gesa, sabar, dan rela berkorban.. :)
Umar bin Khatab yang gagah dan tegas.. :D
Usman bin Affan yang kaya dan mengikhlaskan hartanya untuk umat.. :3
Ali bin Abi Thalib yang pandai dan elegan.. ;)

Yang Butuh SUKSES!!

Terkisah gadis beranjak manula, sedang menggalau di IBF (Islamic Book Fair). Adalah kajian tentang kurikulum 2013 dengan 3 narasumber. Yah, kurang lebih 2 jam perteleannya. Akhirnya berujung pada review, orang sukses butuh:
1. Lucky
2. Money
3. Knowledge
4. Hardwork
5. Leadership
6. Attitude

Ckckck.. Baru sadar kalau dikit banget.. Untuk semua adek didik ku.. Tolong persiapkan diri kalian. Karena esok para guru dan pihak yang berwenang akan menilai kalian dari tiga aspek, pertama kognitif (pengetahuan), Afektif (sikap keseharian), dan psikomotorik (penerapan di kehidupan sehari-hari). Yuk, sering-sering belajar ples kuatin baca Al-Qurannya.. :)

Selasa, 13 Mei 2014

Ali, Syaikh, Hasan, al-Halabi, 2001, Beginilah Kepribadian Seorang Muslim, Bogor, Daar Ibnu Affaan

1. Ikhlas
2. Berbeda dari yang Lain
3. Keadilan
4. Pengorbanan Diri
5. Kelembutan
6. Kembali Kepada Kebenaran
7. Bertanggung jawab
8. Seorang Muslim adalah Pemaaf
9. Seorang Muslim Tidak Iri Dengki
10. Rabbaniy
11. Seorang Muslim Tidak Memiliki Waktu Kosong
12. Sikap Wara'
13. Seorang Muslim Jujur di Seluruh Urusan Dunianya
14. Ilmu untuk Diamalkan
15. Seorang Mukmin adalah Cermin bagi Saudaranya
16. Pergulatan Seorang Mukmin dengan Setan
17. Berdzikir Kepada Allah
18. Seorang Muslim tidak melakukan Ghibah
19. Seorang Muslim Tidak Fudhuliy
20. Seluruh Perbuatan Seorang Muslim adalah untuk Allah dan karena Allah
21. Seorang Muslim Selalu Bertaubat dan kembali kepada Allah
22. Tonggak-tonggak Kepribadian Seorang Muslim
23. Bersenda-Gurau tapi Serius
24. Sesaat demi Sesaat
25. Seorang Muslim Tidak Meremehkan Soal Kemaksiatan
26. Seorang muslim Tidak Berbuat Kedzaliman
27. Seorang Muslim Tidak Berbuat Namimah
28. Tidak Begantung pada Kemewahan
29. Zuhud
30. Amala-Amal Kebaikan
31. Seorang Muslim selalu puas dan Menjaga Kehormatan Dirinya
32. Semangatnya di dalam Mengamalkan Agama
33. Etika Seorang Muslim di dalam Bergaul
34. Mengunjungi Saudara Seiman
35. Kemuliaan Akhlaq Seorang Muslim
36. Seorang Muslim yang Mengetahui Kemampuan Dirinya Sendiri
37. Mengharap Kebaikan dari Allah untuk dirinya dan saudara-saudaranya
38. memerintah pada yang Makruf dan Mencegah pada yang Munkar
39. Waspadai Perselisihan
40. Solusi dari-Fitnah-Fitnah yang Terjadi di Kalangan Manusia

Alhamdulillah ya.. Ini bisa langsung untuk mengkaji karangan indah yang sebelumnya.. :)

Sederhana (Berusaha mengarang ini tanpa takabur di hati)


Terdiri dari sembilan huruf. S.. E.. D.. E.. R.. H.. A.. N.. A..
Hemm, mungkin aku sedang merindukan sosoknya. Yang mampu menerima keadaan apa adanya.. Tujuannya tak lebih karena ia tak ingin merepotkan sekitarnya. Salah satunya tentang kosnya. Pernah dia berkata, "Besok kalau kau butuh sesuatu datanglah kemari, aku akan selalu ada di sini.." Berikutnya ku tanya kembali, "Heyy, kos mu tidak begitu nyaman.. Lembab, gelap, tak ada sedikit pun kenyamanan.. Mengapa kau tak pindah saja?" Dia pun menjawab, "Tidak, aku nyaman dengan semua ini.. Aku bahagia.. Aku akan setia di sini.." Kemudian aku menyangga lagi, "Tunggu-tunggu apakah karena keterbatasan ekonomi?" Dia kembali menjawab, "Yah, itu sebagian kecil faktor penyebabnya"
Seperti biasa, aku mengakhiri obrolan dengan lamunan..........................................
Apa jadinya jika dia memiliki hasrat besar untuk menghuni kosan yang lebih mewah yang mampu membuatnya betah berlama-lama di kosan?
Mungkin dia akan merengek pada Ibunya untuk meminta tambahan kiriman uang bulanan.. Sementara si Ibu tak memiliki pendapatan tambahan.. Bisa jadi dia akan melakukan tindakan kriminal, entah itu menipu, korupsi kecil-kecilan, dan bahkan pungli pun bisa diajalani.. Duh.. Duh.. Seperti itulah jika ada manusia yang tak bersyukur..
Dari lamunan ku, terciptalah sebuah penilaian, betapa dangkalnya pemikiran ku.. Dan sungguh aku tak bijaksana hanya menilai fisik tapi yang di dalam, yang tak kelihatan tak sedikit pun aku perhatikan.
Satu lagi yang membuat ku tertegun ketika bersamanya. Ketika kita mendaki bersama, betapa perfeksionisnya aku membawa peralatan dan perlengkapan. Hal ini sangat kontras dengan dia yang hanya menggunaan tas selempang dan sandal jepit. Aku mengkhawatirkannya. Hingga aku berusaha meyakinkannya, "Kamu serius mau mendaki pakai sandal jepit?" "Iya, emang kenapa?" Balasnya. Dalam hati aku hanya bisa mendoakan semoga dia baik-baik saja. Di pertengahan cerita, aku yang perfeksionis terserang musibah, kaki ku lecet. Jalan ku menjadi pincang. "Nih, pakai aja sandal ku" Tawarannya, sambil menyodorkan sandal pada ku. Bagai semut di seberang danau nampak, namun gajah di pelupuk mata tak tampak. Kesalahan orang saja aku kritik abis-abisan bahkan sampai sempat aku merendahkan, namun kenyataanya kekurangan dan kelemahan ku sendiri tak mampu aku atasi sendiri malah aku yang merepotkan yang aku rendahkan. Dan dia yang aku nilai rendah, bukan dia yang aku nilai tinggilah yang menolong ku. 
Kemudian aku balik bertanya, "Tukeran sama sepatu ku? Sepatu ku kan kecil, pasti ngga muat buat kamu.. Terus kamu pakai apa?" Tanpa membalas pertanyaanku, dia hanya melanjutkan jalannya sambil membawa sepatu yang membuat ku terluka.
Yang perlu digaris-bawahi dari mengarang indah ini adalah satu orang dengan orang yang lain itu berbeda antara kemampuan dan kekurangannya, jangan mudah menilai orang dari luarnya saja dengan standart normatif, akan lebih bijak bila kita telisik dalamnya dulu berusaha memahami duduk permasalahannya barulah kita bantu memberikan solusi.
Oooooh aku merindukan sosok sederhana mu. Sosok yang kini aku cintai stylenya (sandal jepit_tas slempang)

Jumat, 02 Mei 2014

Nikala Wali Murid Ngendika.. #SyndromHARDIKNAS

Pernah suatu saat saya berkunjung pada rumah salah satu adik didik saya. Tujuan utamanya untuk mengajar. Namun, siapa sangka adik didik saya ternyata sedang tidak siap untuk belajar. Maka, jadilah saya berbincang-bincang dengan wali murid tersebut. Obrolan-obrolan ringan saja. Mulai dari profil adik didik saya, profil saya sendiri, hingga ke karakter pengajar yang baik. Di tengah perbincangan, sang Ibu berkata bahwa beliau lebih menyukai pengajar Mas XXXX, sebabnya adalah dia tidak hanya pintar dan jelas dalam menerangkan tapi juga berbudi luhur. Dari Mas XXXX pun si Ibu melihat adanya sebuah keprihatinan dalam memperjuangkan hidup. Mas XXXX memang patut untuk dicontoh. Dan bahkan Kakak dari adik didik saya pun turut memujinya dan meniti adiknya agar meniru Mas XXXX.
Sepintas saya mencoba merefleksikan pada diri saya sendiri. Haloooooo.. Jauhnyaaaaaaa perbedaan antara saya dengan Mas XXXX. Pintar? Entahlah saya sendiri hingga detik ini masih belajar. Jelas dalam menerangkan? Itu juga saya belum bisa menilai diri saya seperti apa, yang pasti saya tidak pernah mengenyam pendidikan khusus untuk menjadi pengajar. Prihatin? Huft, saya pernah mengajar mengendarai mobil. Jadi, dari sini saya sangat bersyukur sudah mengunjungi adik didik saya yang sedang tidak enak badan. Karena seharusnya saya yang mengajar dan memberikan ilmu. Tapi justru sebaliknya saya mendapatkan masukan yang sangat membangun, yakni mengenai kriteria pengajar yang patut dicontoh menurut keluarga adik didik saya.
Sepulangnya dari rumah adik didik saya, saya masih merenungkan perbincangan yang telah terjadi. Lalu saya teringat kitab Prophetic Parenting karangan Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid yang telah saya beli 2 tahun yang lalu namun hingga kini belum tersentuh. Kemudian dengan bacaan Basmallah saya kaji kitab ini secara perlahan. Benar rupanya, Ada salah satu karakteristik Rasul, tentang ketauladanan dalam mendidik anak agar mampu mempengaruhi akal anak. Hemm.. Sepertinya saya terlambat dalam mentadabburi kitab ini. Hyakakaka..
Baiklah dari sini saya mengikhlaskan untuk meluangkan waktu untuk mengkatamkan kitab ini. Berikutnya saya teringat dengan buku tentang Doktor Kecil Penghafal Al-Quran. Di situ pun ada beberapa metode salah satunya ketauladanan agar anak mampu dengan cepat menghafal Al-Quran,
1.   Motivasi. Berikan motivasi seperti pujian dan reward ketika anak mampu meghafal beberapa ayat.
2.  Jangan memaksa. Sepertinya ini orang dewasa saja tidak suka, apalagi anak kecil yang notabenenya ingin selalu aktif bermain. Ajarkanlah secara bertahap.
3.  Buatlah menyenangkan. Ini dapat berupa games yang menantang dan seru. Sehingga anak-anak merasa antusias dan tidak mudah jenuh.
4.  Ambil yang mudah. Ini ada hadistnya. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam menentukan pilihan antara dua perkara melainkan beliau memilih yang termudah di antara keduanya selama bukan termasuk dosa. Apabila termasuk dosa, maka beliau menjadi orang yang paling menjauhinya. Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam marah untuk dirinya sendiri dalam maslaah apa pun kecuali apabila syariat Allah dilanggar, maka beliau akan marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Muttafaqun’alayh
5.  Keteladanan. Seperti yang telah disinggung di atas.
So, sebaiknya saya perbaiki diri saya terlebih dahulu, Sebelum memperbaiki dan menyuruh orang untuk menjadi lebih baik.


Hemm, great meeting.. ;)